Global7.id – Nasional,
Iklan deterjen China rasis kembali menjadi sorotan dunia setelah video promosi merek Qiaobi dianggap merendahkan kulit hitam dan mengandung unsur diskriminasi rasial. Iklan tersebut menampilkan adegan pria kulit hitam yang “dicuci” lalu berubah menjadi pria Asia berkulit cerah, sehingga memicu kemarahan global.
Adegan itu dianggap menyiratkan bahwa kulit cerah lebih bersih, lebih menarik, dan lebih “ideal” dibanding kulit gelap. Tak heran jika publik internasional langsung bereaksi keras dan menyebutnya sebagai bentuk rasisme.
Dikecam Internasional, Disebut Menghina dan Rasis
Hanya dalam waktu singkat, video iklan tersebut menyebar ke berbagai negara dan menuai kecaman luas. Banyak media internasional menyorot iklan ini karena dianggap:
- Merendahkan kulit hitam
- Menggambarkan stereotip diskriminatif
- Tidak sensitif terhadap sejarah rasisme dunia
- Mengaitkan warna kulit dengan kebersihan dan nilai manusia
Gelombang protes datang dari berbagai komunitas, aktivis HAM, hingga kalangan akademisi. Warganet dunia pun memviralkan isu ini dan menjadikannya bahan perdebatan panjang.
Perusahaan Akhirnya Minta Maaf dan Tarik Iklan
Di tengah tekanan besar dari publik global, pihak Qiaobi akhirnya menyampaikan permintaan maaf resmi. Mereka mengakui bahwa iklan tersebut menimbulkan kesalahpahaman dan memicu kemarahan banyak pihak.
Langkah berikutnya, perusahaan memutuskan untuk:
- Menarik iklan dari peredaran
- Menghapus tayangan dari platform digital
- Mengakui bahwa iklan tersebut salah secara etika komunikasi
Namun, meskipun sudah ditarik, jejak digitalnya sudah telanjur menyebar dan kini menjadi salah satu contoh nyata kegagalan industri iklan dalam memahami sensitivitas rasial.
Reaksi Berbeda di China
Menariknya, reaksi di China sendiri tidak sepenuhnya sama seperti dunia internasional.
Sebagian masyarakat di China menilai bahwa masalah ini bukan karena niat menghina, melainkan:
- Ketidakpekaan budaya
- Kurangnya pemahaman terhadap isu ras global
- Perbedaan cara pandang tentang ras dan representasi media
Meski demikian, perdebatan tetap terjadi dan akhirnya membuka diskusi lebih besar mengenai pentingnya sensitivitas budaya dalam periklanan modern.
Pelajaran Penting bagi Industri Periklanan Dunia
Kasus Qiaobi bukan sekadar kontroversi biasa. Insiden ini menjadi alarm keras bagi dunia kreatif dan periklanan internasional bahwa:
- Iklan kini bukan konsumsi lokal, tetapi global
- Sensitivitas ras, budaya, dan sejarah wajib dipahami
- Satu kesalahan visual bisa memicu badai reaksi dunia
- Perusahaan harus lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan
Di era digital seperti sekarang, sebuah video bisa viral dalam hitungan menit dan berdampak pada citra brand secara global.
Kontroversi iklan deterjen Qiaobi menjadi pengingat bahwa iklan bukan sekadar alat promosi, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial. Mengabaikan sensitivitas rasial dapat memicu kecaman global besar, merusak reputasi, bahkan mempengaruhi kepercayaan publik.
G7/Qiaobi










