Jepara – Global7.id |Kamis, 13 November 2025
Nama Ratu Kalinyamat sudah tak asing bagi masyarakat Jepara. Ia dikenal bukan hanya sebagai penguasa perempuan, tetapi juga simbol keberanian dan kebijaksanaan yang lahir dari tanah pesisir utara Jawa. Dalam sejarah, sosoknya dikenang sebagai pemimpin yang menggetarkan laut Jawa dan disegani oleh bangsa-bangsa asing pada abad ke-16.
Ratu Kalinyamat adalah putri Sultan Trenggono dari Kesultanan Demak dan istri dari Pangeran Hadlirin. Setelah suaminya wafat, beliau naik tahta memimpin Jepara. Di bawah kepemimpinannya, Jepara berkembang menjadi pusat perdagangan dan kekuatan maritim yang tangguh di kawasan Nusantara. Armada laut Jepara di masanya bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara kala itu.
“Ratu Kalinyamat bukan sekadar simbol sejarah. Ia adalah bukti bahwa perempuan Jawa punya peran penting dalam membangun negeri,” ungkap Ali Achwan, pemerhati sejarah lokal dan tokoh Senior Jepara, saat ditemui di kediaman rumahnya.
Menurut catatan sejarah, Ratu Kalinyamat pernah dua kali mengirim armada laut besar untuk menyerang Portugis di Malaka sebagai bentuk solidaritas terhadap Kesultanan Aceh. Meskipun serangan itu belum berhasil sepenuhnya, keberanian dan strategi perangnya membuat bangsa Eropa menghormatinya. Bahkan, catatan Portugis menyebutnya sebagai “Rainha de Japara, senhora poderosa e rica” — Ratu Jepara yang kaya dan berkuasa.
Tak hanya dikenal karena kekuatan militernya, Ratu Kalinyamat juga dikenal bijaksana dalam memimpin rakyatnya. Ia membangun sistem perdagangan yang adil, memperkuat pertanian, dan menjadikan Jepara sebagai pelabuhan penting yang menghubungkan Jawa, Maluku, dan Malaka. Di masa pemerintahannya pula, Jepara menjadi kota yang makmur dan multikultural.
Ali Achwan yang juga aktif dalam kegiatan sosial budaya dan Pimred Global7 mengatakan, sosok Ratu Kalinyamat adalah inspirasi bagi generasi muda Jepara untuk terus mencintai daerahnya.
“Ratu Kalinyamat mengajarkan bahwa cinta tanah air bukan hanya dengan kata-kata, tapi lewat tindakan nyata, keberanian, dan pengabdian,” ujarnya.
Kini, semangat Ratu Kalinyamat terus dihidupkan oleh masyarakat Jepara melalui berbagai kegiatan budaya dan wisata sejarah. Setiap tahun, warga menggelar acara Festival Ratu Kalinyamat di Desa Mantingan, tempat makam dan peninggalan sejarahnya berada. Festival ini menjadi ajang mengenang perjuangan sang ratu sekaligus memperkenalkan nilai-nilai kepemimpinan perempuan kepada generasi muda.
Jepara memang dikenal sebagai kota ukir, namun sejarah membuktikan bahwa kota ini juga kota pahlawan perempuan. Dari sini lahir sosok Ratu Kalinyamat, seorang pemimpin tangguh yang meninggalkan warisan besar tentang kekuasaan, keberanian, dan cinta tanah air.
Dengan mengenang kisahnya, kita diingatkan bahwa kekuatan perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan pondasi utama kemajuan bangsa.
“Ratu Kalinyamat adalah jiwa Jepara — berani, berdaulat, dan berwibawa,” tutup Ali Achwan.
G7/TEAM










