Kenapa Golongan Darah Tidak Ada C? Ini Jawabannya, Langsung dari Sejarahnya!

Global7.id – Jepara, 

Pernahkan kamu membayangkan hidup di zaman ketika semua orang percaya bahwa darah manusia itu sama? Itulah yang terjadi sebelum tahun 1900. Saat itu, transfusi darah dilakukan secara sembarangan bukan hanya dari sesama manusia, tapi bahkan dari hewan seperti sapi, kambing, hingga anjing. Akibatnya? Banyak nyawa melayang karena tubuh pasien menolak darah yang masuk.

 

Hingga pada tahun 1900, seorang ilmuwan asal Austria bernama Karl Landsteiner mengubah sejarah. Ia memperhatikan bahwa ketika darah dari dua orang dicampur, kadang tetap cair, tapi terkadang langsung menggumpal seperti jelly gagal. Kejanggalan itu mendorong Karl melakukan serangkaian eksperimen yang pada akhirnya menemukan fakta mengejutkan: darah manusia ternyata tidak semuanya sama.

 

Penemuan Aglutinogen: “Kode Rahasia” di Darah

Karl menyadari bahwa di permukaan sel darah merah terdapat zat khusus yang ia namai aglutinogen (yang kini dikenal sebagai antigen). Ia menemukan dua jenis antigen ini:

Antigen A
Antigen B

 

Berdasarkan antigen ini, darah pun dibagi menjadi:

Golongan A → punya antigen A
Golongan B → punya antigen B
Golongan AB → punya antigen A dan B

Golongan yang tidak punya antigen A dan B → awalnya dinamai C, namun akhirnya diganti jadi O, dari kata “Ohne” (bahasa Jerman) atau “zero” (nol), sebagai penanda bahwa darah ini kosong antigen.

 

Penggunaan huruf A dan B sendiri terinspirasi dari abjad Yunani:

A dari “Alfa”
B dari “Beta”

Bacaan Lainnya

Sementara itu, untuk menghindari kebingungan dengan antigen lain, huruf C dihapus dan diganti dengan O. Maka lahirlah sistem penggolongan darah ABO yang kita kenal hingga sekarang bukan ABCD.

 

Lanjutan Penemuan dan Penamaan

Dua murid Landsteiner, yaitu Adriano Sturli dan Alfred von Decastello, kemudian menemukan tipe darah yang memiliki dua antigen sekaligus yang nantinya dikenal sebagai golongan AB. Namun, baru pada tahun 1910, dua peneliti lainnya, yakni Ludwig Hirszfeld dan Emil von Dungern, memberi nama resmi sistem penggolongan tersebut:

A ,B, AB , O

 

Sistem inilah yang sampai sekarang menyelamatkan jutaan nyawa melalui prosedur transfusi darah yang aman dan cocok.

 

Kisah singkat ini mengingatkan kita bahwa sains berkembang dari rasa ingin tahu, ketelitian, dan logika yang tajam. Dari sebuah gumpalan darah, Karl Landsteiner menemukan kunci penting demi kemanusiaan.

 

Disclaimer: Artikel ini dibuat sebagai informasi edukatif dan disajikan dalam gaya bahasa yang ringan untuk memudahkan pemahaman.

 

 

G7/AR

Pos terkait