Global7.id – Jepara,
Tradisi budaya kembali menghangatkan kehidupan masyarakat di bulan apit. Warga di sejumlah desa di Jepara menggelar tradisi Bodo Apem, sebuah warisan leluhur yang sarat makna spiritual dan sosial.
Bodo Apem berasal dari kata “bodo” yang berarti memberi, dan “apem”, kue tradisional berbahan dasar tepung beras, santan dan tape. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk permohonan maaf, harapan akan ampunan dosa, serta sarana mempererat tali silaturahmi antar sesama.
puluhan warga berkumpul di masjid, musholla dan rumah-rumah warga sejak pagi. Mereka membuat ratusan apem secara gotong royong maupun mandiri yang kemudian dibagikan kepada tetangga, kerabat dan tokoh masyarakat.
“Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun. Melalui apem, kami menyampaikan niat tulus untuk saling memaafkan dan memperkuat persaudaraan,” ujar Ali Achwan ketua PWO Jepara sekaligus sebagai salah satu sesepuh Desa.
Selain pembagian apem, warga juga menggelar doa bersama dan tahlilan sebagai bentuk ungkapan syukur dan permohonan keselamatan. Kegiatan ini disambut antusias, terutama oleh generasi muda yang turut serta dalam proses pembuatan hingga pembagian apem.
Ali Achwan menyampaikan apresiasi atas kekompakan warga Jepara khususnya di Desanya. Ia berharap tradisi Bodo Apem dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
“Tradisi ini bukan hanya tentang makanan, tapi juga mengajarkan nilai keikhlasan, kebersamaan dan persiapan batin menyambut Ramadan,” katanya.
Bodo Apem menjadi salah satu bukti hidupnya kearifan lokal di tengah modernisasi. Dengan semangat kebersamaan, warga membuktikan bahwa budaya bukan hanya untuk dikenang, tapi juga untuk dijaga dan diwariskan.***
Sumber: G7/AR.










