Global7.id – Jepara,
Salah satu perajin ukir yang masih eksis Jepara, yakni Sukarno (48) seorang warga Desa Senenan, Kecamatan Tahunan, yang masih bertahan di tengah minimnya regenerasi.
Di atas kayu jati berukuran 4 meter x 1 meter dan 2 meter x 50 sentimeter, Sukarno dan para pekerja sibuk mengerjakan ukiran. Terlihat lihai tangan membuat ukir relief pertanian dan corak epos Ramayana yang sesuai dengan pesanan pembeli.
“Sekarang ada pesanan ukiran tentang pertanian dan Ramayana. Ukuran 4 meter sama 2 meter,” ujar Karno sapaan akrabnya, Selasa (15/3/2025).
Karno menjelaskan proses pekerjaan ukir dengan ukuran 4 meter x 1 meter ini hanya dikerjakan dua orang saja. Tak ayal kata dia proses pekerjaan mengukir sampai 1 tahun baru jadi. Sedangkan pesanan relief Ramayana di atas kayu berukuran 2 meter dikerjakan dua orang. Waktunya diperkirakan 6 bulan baru jadi. Saat ini, kedua pesanan itu baru mencapai sekitar 30 persen.
“Proses satu ukiran empat meter ini dikerjakan 1 tahun. Klo yang ukiran Ramayana dengan ukuran 2 meter itu dikerjakan 2 orang. Waktunya sekitar 6 bulan,” Imbuhnya.
Adapun proses pekerjaan mulai dari membuat sketsa relief yang dipesan. Lalu memahat atau mengukir di atas kayu jati.
“Paling cepat satu bulan ukuran 1 meter x 50 sentimeter. Relief seperti pertanian dan Ramayana, dan pedesaan. Itu paling banyak dipesan,” ungkap dia.
Karno menjelaskan ukir yang dia buat dijual ke seluruh Indonesia. Bahkan pernah ekspor ke Australia pada tahun 2022 silam.
Harga ukiran karyanya dijual kisaran Rp 5 juta sampai Rp 80 juta. Tergantung relief dan ukuran yang dipesan.
“Yang dipesan sampai ke mancanegara motif hewan, itu dikirim ke Australia,” jelasnya.
Sukarno mulai menekuni seni ukir sejak dia masih duduk sekolah dasar. Tidak ada sekolah atau kursus mengukir. Dia mendapatkan keahlian mengukir secara turun temurun dari sang kakak.
“Mulai ngukir sejak tahun 1993. Tahun 1993 itu saya belajar ngukir karena saat itu masih sekolah dasar. Waktu itu kakak saya sudah pintar ngukir terus saya belajar sama kakak. Turun temurun,” jelasnya.
Pada 2015 silam, dia memutuskan untuk membuka usaha ukir relief. Usaha ukir ini ditekuninya sampai sekarang.
Hanya menurutnya beriringan waktu, perajin ukir mengalami beberapa kendala. Seperti modal, bahan baku, hingga tukang ukir yang mulai jarang.
“Tukang ukir juga sekarang lumayan susah. Karena sudah berkurang untuk belajar ukir. Karena belajar ukir relief itu tidak mudah dan lama,” tuturnya.
Karno mengaku karena keterbatasan pekerja ukir sehingga mengerjakan pesanan dengan jumlah orang seadanya. Tak ayal proses ukir membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
“Solusi otomatis dikerjakan seadanya. Mungkin saya sendiri dan mencari beberapa orang,” katanya.
Karena pekerjaan lama hingga setahun baru jadi, maka bagi Karno modal usaha untuk keberlangsungan hidup menjadi kendala. Tak jarang, kata dia, ada pembeli yang keuangannya macet. Sehingga Karno harus memutar otak mencari modal.
“Itu biasanya keuangan itu kan macet otomatis ambil teman untuk kerja otomatis kita tanggung jawab. Mau nggak mau kita harus cari modal,” katanya.
Karno mengaku biasanya memanfaatkan program Kredit Usaha Rakyat atau Bank Rakyat Indonesia (BRI) karena bunganya relatif kecil. “Biasanya Rp 10 juta, Rp 20 juta dan Rp 50 juta yang paling besar,” katanya.
Menurutnya KUR lebih membantu bagi dirinya dan pengukir lainnya. Karno sendiri sampai sekarang masih memanfaatkan KUR BRI.
“Angsuran per bulan dan sekarang masih tinggal sedikit lagi,” jelasnya.
Karno berharap agar usaha ukir di Jepara kembali berjaya kala dirinya masih kecil. “Harapannya biar lebih eksis dan lancar waktu saya kecil,” harap Karno.***
Sumber: DtkJ.