Global7.id – Kepulauan Nias,
Di era modernisasi dan globalisasi negara yang maju, ternyata masih ada kehidupan seorang manusia yang sangat memprihatikan dan salah satunya yang dialami pria ini.
Ditengah perjalanan Alinudi Laia bersama teman, bertemu sebuah gubuk yang terbuat dari papan, kumuh, dan bertiang kayu bulat yang beratap daun Rumbia dan ternyata telah dihuni oleh seorang laki – laki tua berumur sekitar 60 tahun lebih dengan hidup sebatang kara di pedalaman hutan.
Dengan situasi yang sangat menyedihkan Alinudi Laia yang berjiwa budiman dan sungguh kasihan serta prihatin dengan rasa kemanusiaannya yang dalam, lalu Alinudi Laia menanyakan identitas penghuni rumah tersebut, Senin, (10/05/2021).

Kemudian, dengan pendekatan yang lebih halus dan dengan berjalannya waktu si penghuni rumah tersebut menjawab, “Saya hidup sebatang kara dan nama saya Sokhiwanolo Halawa lalu umur saya tidak tau dan tak ada saudara yang memperhatikan sampai sekarang”, jelasnya dengan meneteskan air mata kesedihan.

Lalu Alinudi bersama temannya prihatin dengan rasa kemanusiaan yang dalam kemudian memperhatikan bahkan menanyakan kepada Sokhiwanolo Halawa tentang perhatian pemerintah kepadanya.
Setelah itu si penghuni rumah gubuk itu Sokhiwanolo Halawa mengatakan kepada wartawan, “Saya tak tau tentang bantuan karena saya tak perna menerimanya sebab alasan pemerintah desa saya tidak punya KTP, Akta lahir dan lain sebagainya”, ujar lirih sedihnya.

Lanjut dalam penjelasan Sokhiwanolo Halawa, “desa saya itu Lawa – Lawa Luo, kecamatan Lolomatua, Kabupaten Mias Selatan dan semua surat-surat yang pemerintah bilang, bukannya saya tidak mengurus, tapi saya tidak tau di mana tempatnya di urus dan pemerintah desa juga tak pernah membantu saya tentang pengurusan administrasi tersebut”, tuturnya.
Alinudi Laia bersama temannya dengan rendah hati menyampaikan pesan lewat berita ini kepada pemerintah daerah Nias Selatan dan para netizen yang budiman serta para pembaca berita ini untuk memperhatikan dan menolong saudara Sokhiwanolo Halawa yang hidup sebatang kara di pelosok pedesaan.***
Sumber:Alinudi Laia.
Fhoto:Mesari Waruwu.
Wartawan: Am. Zebua.










