Waspadalah, Penyakit Kencing Tikus bisa Menyebabkan Kematian Seperti Warga Jepara Ini

Foto, salah seorang yang terkena penyakit kencing tikus (ilustrasi)

Global7.id – Jepara, 

Penyakit kencing tikus atau dikenal dengan sebutan leptospirosis tengah mewabah di Indonesia. Bahkan korban jiwa pun terus bermunculan.

 


Tercatat, sebanyak 249 orang terinfeksi penyakit ini dan sembilan orang di antaranya meninggal dunia. Lantas, apa sebenarnya penyakit kencing tikus atau leptospirosis ini?

 



Penyakit kencing tikus

Penyakit kencing tikus kerap muncul di musim hujan. Wabah ini muncul akibat bakteri Leptospira yang kerap mengendap di kencing tikus. Tapi bukan hanya di kencing tikus, bakteri itu juga bisa ‘bersarang’ di darah hewan yang terinfeksi.


 

Bakteri tersebut bisa menginfeksi manusia. Biasanya penularan terjadi karena ada kontak antara manusia dengan bakteri yang telah mencemari tanah, air, atau makanan.

 



Saat musim hujan, bakteri ini bisa bebas mengontaminasi air. Terutama di daerah rawan banjir atau genangan. Anda tentunya harus berhati-hati sebab tikus bisa kencing dimana saja dan menyebabkan kontaminasi bakteri leptospira yang cukup tinggi.

Bacaan Lainnya

 



Gejala Penyakit Kencing Tikus

Pada hewan, penyakit ini tidak menimbulkan gejala. Tapi, saat manusia yang terinfeksi akan muncul beberapa gejala, yakni sebagai berikut:

– Demam,
– Mata merah,
– Sakit kepala,
– Panas dingin,
– Nyeri otot,
– Sakit perut,
– Mual dan muntah,
– Diare,
– Kulit atau mata menguning,
– Ruam.


 

Fase ini akan berlanjut pada fase lanjutan dengan gejala yang makin memburuk, yakni sebagai berikut:

– Batuk darah,
– Nyeri dada,
– Sulit bernapas,
– Kulit atau mata lebih menguning,
– Feses berwarna hitam,
– Urine berdarah,
– Intensitas buang air kecil menurun,
– Bintik-bintik merah pada kulit.

Itulah penjelasan terkait penyakit kencing tikus yang kerap muncul di musim hujan.



Terpisah, Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, menemukan satu kasus leptospirosia atau penyakit kencing tikus. Kasus itu ditemukan pada awal Februari lalu.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Muh Ali, mengatakan satu kasus itu ditemukan di Kecamatan Kembang. Beruntung sejak dini dapat terdentifikasi sehingga tidak sampai merenggut korban jiwa.

“Sekarang orangnya sudah sembuh,” kata Muh Ali, Rabu, 8 Maret 2023.


 


Kasus leptospirosis di Bumi Kartini tergolong rendah. Setiap tahun hanya ditemukan kurang dari lima kasus. Tahun lalu, hanya ditemukan dua kasus. Tapi, lantaran terlambat penanganan, dua pasien leptospirosis meninggal.

“Kalau di Jepara ini kecil, setiap tahun paling satu dua,” kata Muh Ali.

 


Munculnya leptospirosis bulan lalu diharapkan tidak muncul lagi. Umumnya, kasus leptospirosis di temukan saat curah hujan tinggi atau pasca banjir.

“Dan ini kondisi di Jepara kan sudah panas. Mudah-mudahan sudah tidak ada lagi,” tandas Muh Ali.

Sumber: MN.

Pos terkait