Asyik dengan Ponselmu, Ternyata Selingkuh dan Rasanya ingin Pergi, Tapi Anak-anak?

Foto, ilustrasi perselingkuhan.

Global7.id – Cerita Cinta,

Di depan orang-orang, kami ibarat pasangan suami istri yang harmonis dan penuh cinta. Tapi, siapa sangka jika di balik itu, kami sering tidur pisah ranjang meski ada dalam satu atap?


Katanya, pernikahan bisa berjalan dengan landasan kepercayaan. Tapi, jika kepercayaan itu sudah luntur, ya, jangan harap pernikahan bisa harmonis. Apalagi jika ingin bertahan.


 

“Kalimat-kalimat di atas kerap muncul di atas kepala saya, apalagi setiap kali melihat Andrew. Ya, ia adalah seorang suami yang berhasil melunturkan kepercayaan saya, ” ucap isi hati seorang istri.


 

“Pikiran selalu melayang ke kejadian beberapa tahun lalu, saat saya menemukan chat mesra di ponselnya dari seseorang bernama ‘Pak Wahyu’, nama wanita yang dia samarkan. Kejadian yang akhirnya kini membuat kami harus berpura-pura baik-baik saja, ” Tuturnya.


 

“Dari luar, saya, Andrew, dan kedua anak kami mungkin terlihat seperti keluarga harmonis nan romantis. Oleh para tetangga dan teman kerjanya, Andrew dipandang sebagai suami sekaligus ayah yang bertanggung jawab, ” ungkapnya.


“Saat nilai-nilai positif itu ditujukan pada Andrew, rasanya saya selalu ingin menelan ludah. Kamu enggak tahu aja kelakuan dia aslinya kayak gimana. Begitu kira-kira gerutu saya dalam hati”, ungkapan isi hati seorang istri.


 

Dia, Sosoknya selalu hadir di rumah. Ia ikut mengurus kedua anak kami yang masih kecil-kecil itu. Kami berlaga bak keluarga yang sempurna, tanpa ada yang tahu bahwa ada ‘penyakit‘ menjalar di rumah tangga kami. Penyakit yang membuat pernikahan ini jadi berjalan ala kadarnya.


 

Orang-orang memandang kami dari sudut pandang akuarium. Kami ibarat ikan yang berenang ke sana kemari dengan indahnya di dalam akuarium. Tapi, mereka tak tahu saja jika sebenarnya kami atau khususnya saya merasa mual.

 

Bacaan Lainnya

“Kami tak se-harmonis seperti yang dilihat dari luar. Mirip orang yang tinggal bersama hanya karena kewajiban. Jika kau tanya bagaimana perasaan saya, ya, rasanya biasa saja. Anyep, ” ungkapan kesal seorang istri.


Perselingkuhan itu terjadi pada 2022 lalu. Kecurigaan muncul saat sikap Andrew yang berubah sejak beberapa bulan ke belakang.


Ciuman mesra kami atau sekadar obrolan tengah malam sebelum tidur pun mulai berkurang. Andrew lebih asyik dengan ponselnya.


 

“Berbagai kejadian pun terus membuat saya curiga. Andrew yang pergi ke kondangan seorang diri dan masih banyak lagi. Tuhan mungkin memberi jalan, hingga singkat cerita saya temukan sebuah pesan mesra dari nomor bernama ‘Pak Wahyu’, ” ucap sedih seorang istri.

 


“Sayang, kamu mau enggak nemenin aku nanti sampai malam di Semarang. Aku takut nginap sendirian.” Bunyi pesannya kira-kira seperti itu.

“Lutut saya mendadak lemas”, Tuturnya.


“Akhirnya Saya memberondong Andrew dengan segudang pertanyaan hingga ia mengaku telah berselingkuh dengan seorang perempuan yang ditemuinya di aplikasi kencan daring, ” ucapnya.


 

Andrew meminta maaf dan berbagai upaya lainnya yang dilakukan, “Saya menolak dan meminta cerai,” kata istri yang tak kuat lagi menahan emosi dan perasaan hancur.


 

“Tapi, Tuhan berkata lain. Belum sempat ajukan gugatan, saya ternyata berbadan dua. Usia kandungan telah mencapai empat bulan, Singkat cerita, kami memutuskan untuk tetap bersama, mencoba mencari solusi agar pernikahan tetap berlanjut dan anak-anak bisa mendapatkan kasih sayang lengkap dari kami,”


 

Tapi, apa yang sudah tergores memang tidak bisa sembuh sepenuhnya. Meski kami tinggal bersama, rasanya tetap hambar. Tak ada lagi perasaan yang tersimpan untuk Andrew. Rasa curiga, takut, dan tak percaya juga lebih sering muncul.

 


Tak ada lagi rasa hangat di pagi hari menemani Andrew sarapan sebelum berangkat kerja. Tak ada lagi kecupan sebelum tidur karena kami lebih sering tidur terpisah.


Lagi pula, bagaimana mau ada kecupan?

“Wong setiap hari kami tidur di kamar yang berbeda. Tak sudi rasanya tidur bersama pria yang telah mengkhianati saya,” kesal seorang istri.


“Pernah suatu hari, kami harus mendatangi sebuah acara bersama. Mau tak mau saya ikut pergi bersama Andrew, ” jengkelnya seorang istri.


 

Sepanjang kegiatan, mulut ini rasanya pegal karena harus selalu tersenyum. Padahal, hati ini rasanya malas betul harus berada seharian menemani Andrew. Genggaman tangan Andrew juga terasa hampa. Rasanya ingin cepat-cepat saya lepas. Tapi, apa daya? Kami harus terlihat baik-baik saja. Setidaknya, mencoba baik-baik saja.


 

“Ya ampun, kalian makin mesra aja,” ujar salah seorang teman kami. Saya tersenyum. Dari luar terlihat bahagia, tapi hati getir dan seperti ada bom yang meledak-ledak di kepala.


 

“Saya sendiri bingung apa yang membuat saya bertahan dengan kondisi seperti ini. Mungkin jawabannya adalah anak-anak. Bagaimana pun caranya agar anak-anak mendapatkan kasih sayang orang tuanya secara lengkap. Saya juga tak mau jika sampai anak-anak dikenal karena orang tuanya yang tak akur, ” pikir seorang istri.


 

Tak apa-lah, meski saya harus tersiksa dan enek sepanjang hari.

 

Pos terkait